Siapa sih yang nggak pengen kerja di Jepang? Negeri Sakura dengan kota-kotanya yang rapi, transportasi super presisi, dan budaya kerja yang disiplin,. Wah, pasti bikin banyak anak muda kepikiran buat merantau. Tapi, tunggu dulu! Jangan asal kabur ke Jepang tanpa tahu Biaya Hidup di Jepang. Kalau nggak paham, dompet bisa nangis sebelum gaji pertama masuk.
Di artikel ini, kita bakal ngobrol santai tapi serius soal Biaya Hidup di Jepang, khususnya buat kamu yang pengen magang, kerja sebagai perawat lansia (kaigo), atau profesi lainnya. Plus, tips praktis dari pengalaman orang-orang Indonesia yang udah merantau.
Biaya Hidup di Jepang: Realita, Bukan Drama Instagram
Pertama-tama, mari kita buka mata. Jepang itu cantik dan modern, tapi hidup di sana tidak murah. Mulai dari sewa apartemen, transportasi, makan, hingga kebutuhan sehari-hari bisa bikin kamu kaget kalau nggak siap.
Misal, sewa apartemen kecil di kota besar seperti Tokyo bisa mulai dari ¥50.000–¥80.000 per bulan (± Rp5–8 juta) untuk satu kamar. Belum lagi biaya listrik, air, gas, dan internet, biasanya nambah sekitar ¥10.000–¥15.000 (± Rp1–1,5 juta).
Kalau makan di luar, satu kali makan standar bisa sekitar ¥800–¥1.200 (± Rp80.000–120.000). Bayangin kalau sehari makan di luar tiga kali… dompet langsung ngos-ngosan!
Nah, ada kabar baik juga nih. Kalau kamu punya kualitas yang baik, misalnya lancar berbahasa Jepang, punya karakter yang bagus, serta mau kerja keras biasanya saat interview hal ini bisa jadi pertimbangan perusahaan. Ada perusahaan yang memberikan fasilitas tempat tinggal dengan subsidi penuh, ada yang memberi subsidi sebagian, ada juga yang sistemnya dicicil oleh pekerja. Tapi ada juga yang tetap harus bayar full semua, tergantung kelas perusahaan, jenis pekerjaan, dan lokasi tempat kerja.
Karena itu, penting banget buat kamu calon kaigo atau pekerja magang lainnya: sebelum berangkat, bikin perhitungan biaya hidup per bulan. Supaya nggak kaget dan bisa hemat sambil fokus kerja.
Tips Menghemat Biaya Hidup di Jepang
Tenang, nggak semuanya mahal kok. Ada beberapa trik yang bisa bikin hidup di Jepang lebih ramah dompet:
- Pilih apartemen share house atau asrama – karena umumnya lebih terjangkau dibanding menyewa apartemen pribadi.
- Masak sendiri – beli bahan makanan di supermarket atau konbini (mini market) bisa jauh lebih hemat daripada makan di luar terus.
- Gunakan transportasi publik dengan kartu bulanan – lebih hemat dibandingkan beli tiket harian.
- Manfaatkan promo dan diskon – banyak supermarket punya diskon makanan di malam hari, lho.
Cerita nyata nih: salah satu teman saya, calon kaigo, awalnya tiap makan di luar. Setelah pindah ke share house dan mulai masak sendiri, bisa hemat ±¥15.000–¥20.000 per bulan. Lumayan banget buat ditabung atau jajan di weekend.
Pengalaman Nyata Calon Perawat Lansia di Jepang
Yuk, kita masuk ke bagian cerita. Rina, 22 tahun, lulusan SMA dari Bandung, memutuskan ikut program magang perawat lansia di Jepang. Awalnya, dia cuma fokus sama gaji dan kerjaan, tapi pas sampai di Tokyo, baru nyadar kalau Biaya Hidup di Jepang itu cukup tinggi.
Rina belajar dari pengalaman: dia mulai mencatat semua pengeluaran, bikin menu masakan murah tapi sehat, dan memanfaatkan transportasi publik bulanan. Hasilnya? Gaji bulanan cukup untuk nabung, beli oleh-oleh, dan tetap bisa jalan-jalan di hari libur.
Cerita ini diangkat dari pengalaman nyata banyak pekerja Indonesia di Jepang yang menghadapi tantangan biaya hidup. Nama dan tokoh hanyalah ilustrasi.

Biaya Hidup vs Gaji Magang/Kaigo di Jepang
Sebagai calon pekerja magang (Technical Intern Training) maupun Tokutei Ginou kaigo, gaji awal memang tidak sebesar gaji pekerja tetap Jepang. Tapi jangan kecil hati!
Gaji magang di bidang kaigo umumnya berkisar antara ¥130.000 hingga ¥150.000 per bulan (setara sekitar Rp13–15 juta). Setelah dikurangi sewa, makan, dan transportasi, masih ada sisa untuk nabung atau kebutuhan lain, asal kamu disiplin dan pintar mengatur pengeluaran.
Tips: selalu catat pengeluaran, buat target tabungan, dan manfaatkan bonus atau insentif kalau ada. Ini akan membantumu survive dan tetap bisa nikmatin hidup di Jepang tanpa stres dompet.
Menghadapi Tantangan dan Kultur Jepang
Selain Biaya Hidup di Jepang, ada juga tantangan lain: budaya kerja, bahasa, dan kebiasaan sehari-hari.
- Bahasa Jepang – walaupun program magang menyediakan kelas, belajar dari awal tetap penting.
- Budaya kerja – disiplin dan tepat waktu itu wajib.
- Adaptasi makanan & gaya hidup – awalnya mungkin kaget sama porsi makan, jam makan, atau cara orang Jepang berinteraksi.
Tapi percayalah, semua bisa dipelajari. Banyak anak muda Indonesia yang berhasil adaptasi karena open mindset, mau belajar, dan sabar menghadapi perubahan.
Jangan Takut Merantau untuk Masa Depan
Kalau kamu masih ragu, ingat: merantau ke Jepang adalah pengalaman hidup yang priceless. Biaya Hidup di Jepang memang tinggi, tapi pengalaman kerja, bahasa, dan budaya yang kamu dapat akan membuka peluang baru untuk karier.
Tips: jangan takut gagal, jangan takut berbeda, dan selalu siap belajar. Open mindset ini akan membantumu survive dan berkembang, baik di Jepang maupun saat kembali ke Indonesia.
Baca juga: Gaji Kaigo di Jepang 2025: Peluang dan Tips Nabung

Gohan.ai: Jalur Resmi Magang & Kaigo ke Jepang
Biar perjalananmu aman dan jelas, daftar melalui LPK resmi di Gohan.ai. Semua jalur pendaftaran untuk magang, visa kerja maupun Visa Gijinkoku tersedia lengkap, silakan cek biaya di masing-masing LPK di Gohan dan kamu bisa juga konsultasi dengan tim Gohan di WhatsApp: +62 887-1172-292
Lewat Gohan.ai:
- Cek informasi detail biaya tiap LPK
- Side-to-side comparison keunggulan tiap LPK
- Portal pribadi untuk melacak proses pendaftaran dan dokumentasi
- Chat langsung dengan LPK saat pendaftaran
Jadi, jangan asal kabur ke Jepang. Rencanakan dengan matang, hitung Biaya Hidup di Jepang, dan daftar resmi lewat Gohan.ai supaya perjalanan kariermu lebih aman dan menyenangkan.
Baca juga: Biaya Hidup di Jepang untuk Pelajar dan Pekerja Muda